Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Catatan 22:56

   Jalan kosong kelabu terasa telanjang. Kubuka jendela kemurungan, tepat! Hujan jatuh di telapak tanganku. Mengisi kesepian yang bertumpah ke dalam segumpal darah ini. Jarum kompas berhenti, tujuan telah terarah. Bunga tanpa nama itu akhirnya mekar, dengan sigap ia melompat dengan bebas ke dunia yang cerah ini. Tempat dimana cahaya untukmu bersandar.    Tuan dari sudut pandang orang pertama tunggal. Tuan yang kusamarkan namanya menjadi Rendy. Maaf tak bisa kusebutkan namamu disini. Cukup dengan Nya saja. Cukup aku saja yang memaksa namamu menggerogoti otak ini dan memaksanya untuk terus bertahan. Nama mu diselimuti sebuah kata bernama angan dan dan sebuah pikiran berselimut bayangan. Nama mu sepertinya diracik dengan tepat sehingga delusi memaksa untuk masuk. Aku selalu berpikir bahwa delusi tak selalu salah, delusi hanyalah perwujudan dari-Nya yang belum sempurnya dan takut untuk memeluk realita. Melihatm...

Tentang Waktu

    Waktu tak pernah bicara tentang pertemuan. Waktu yang tidak berkompromi dengan perpisahan. Serta angin yang tidak pernah meninggalkan jejaknya. Puan yang sedang menyesap coklat panas itu membiarkan waktu berkawan dengan angin untuk menyapa dunia. Puan itu sangat tenang merangkul sudut kota. Ia melihat seorang tuan, memayungi letihnya hari dan melabuhkan rindu yang hanya sebenih harap. Seperti angin yang membelainya dan debu yang melayang, tuan itu disana. Tapi puan itu tak bisa meraihnya, tuan itu hanyalah mimpi dan kupu-kupu. Bagaikan tak berdosa, bayangan tuan itu terus menghantuinya. Entah itu karsa yang tuan itu rencanakan atau hanya sebuah halusinasi, entahlah puan itu terlalu bodoh untuk memutuskannya.      Kalian bisa menjuluki puan itu manusia paradoks. Seringkali ia membuat pernyataan yang bertentangan dengan hatinya. Seperti saat itu, ia berhadapan dengan tuan yang sangat ia kagumi.  Puan itu telah...