Catatan 22:56

   Jalan kosong kelabu terasa telanjang. Kubuka jendela kemurungan, tepat! Hujan jatuh di telapak tanganku. Mengisi kesepian yang bertumpah ke dalam segumpal darah ini. Jarum kompas berhenti, tujuan telah terarah. Bunga tanpa nama itu akhirnya mekar, dengan sigap ia melompat dengan bebas ke dunia yang cerah ini. Tempat dimana cahaya untukmu bersandar.
   Tuan dari sudut pandang orang pertama tunggal. Tuan yang kusamarkan namanya menjadi Rendy. Maaf tak bisa kusebutkan namamu disini. Cukup dengan Nya saja. Cukup aku saja yang memaksa namamu menggerogoti otak ini dan memaksanya untuk terus bertahan. Nama mu diselimuti sebuah kata bernama angan dan dan sebuah pikiran berselimut bayangan. Nama mu sepertinya diracik dengan tepat sehingga delusi memaksa untuk masuk. Aku selalu berpikir bahwa delusi tak selalu salah, delusi hanyalah perwujudan dari-Nya yang belum sempurnya dan takut untuk memeluk realita. Melihatmu dari tepi aula, manja terbuai dari manisnya genangan air hujan. Bertutur engkau tentang peluh dan sains. Bisikan tenang di bawah payung itu menyebar hingga bibir ini membentuk simpul  OHH TIDAK!!! SIAPAPUN HENTIKAN! SIAPAPUN BAWA AKU KESANA!
   Tanpa filsafat, awalnya aku menyadari kalau tulisan ini atau profil ku ini tak akan engkau sentuh. SIAPAPUN, BERITAHU RENDY! Eh, kan Rendy hanya topeng belaka. Maaf. Telinga tak berkedip, mata tak berbisik, mengisyaratkan apapun deh, ini udah mentok. Jangan salahkan sudut pandang orang pertama tunggal ini, salahkan saja Rendy yang membuat aku tenggelam dan terbawa arus hingga berlabuh  di tepi ruang yang tak berujung.

Komentar