Tentang Waktu

    Waktu tak pernah bicara tentang pertemuan. Waktu yang tidak berkompromi dengan perpisahan. Serta angin yang tidak pernah meninggalkan jejaknya. Puan yang sedang menyesap coklat panas itu membiarkan waktu berkawan dengan angin untuk menyapa dunia. Puan itu sangat tenang merangkul sudut kota. Ia melihat seorang tuan, memayungi letihnya hari dan melabuhkan rindu yang hanya sebenih harap. Seperti angin yang membelainya dan debu yang melayang, tuan itu disana. Tapi puan itu tak bisa meraihnya, tuan itu hanyalah mimpi dan kupu-kupu. Bagaikan tak berdosa, bayangan tuan itu terus menghantuinya. Entah itu karsa yang tuan itu rencanakan atau hanya sebuah halusinasi, entahlah puan itu terlalu bodoh untuk memutuskannya.
     Kalian bisa menjuluki puan itu manusia paradoks. Seringkali ia membuat pernyataan yang bertentangan dengan hatinya. Seperti saat itu, ia berhadapan dengan tuan yang sangat ia kagumi.  Puan itu telah merancang apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan tuan itu. Tetapi puan itu hanya bisa bersyukur karena ia hanya bisa melihat tuan beralis tebal dihadapannya. Like mannequin, everything is so awkward. She should just ask like she do normally. But whenever she saw him, she act so stupid. Her eyes, nose, lips, even her face, arms, and her hand. They won't listen her.
    

Komentar